perih

Posted on Updated on

rabu siang harus saya lalui dengan sedikit bersendu, setelah mendapat kiriman puisi hasil karya sahabat saya, Pratiwi Hadi. berikut puisinya:

 SEPERTI
 
 
 
Menanti senja di siang hari ini
Seperti menanti dirimu
Seperti menanti kapas tua di pohon lapuk
Terombang-ambing angin
Hampir lepas namun tak kunjung lepas
Seperti sebuah kepastian yang tak kunjung pasti
 
Berhenti sejenak di tepi pantai senja ini
Seperti berhenti sejenak mengenang wajah teduhmu
Seperti kembali merasakan tetes air di musim kering
Sejuk mengaliri relung-relung hati
Yang belum juga basah akan cinta
Seperti buah yang jatuh karena layu
 
Menyanyikan kembali lagu itu malam ini
Seperti kembali saat kau mengatakan kalimat itu
Seperti membuatku menjadi satu-satunya yang istimewa
Sejenak mengguncang kekakuan diri
Menjebak sukma dalam lingkaran bahagia fana
Seperti melambungkan angan terbang tinggi
 
Menolakmu  pagi itu
Seperti membuang payung ditengah hujan
Seperti menetes air asam di luka meradang
Pedih, perih tapi harus dilakukan
Agar kesalahan dibayar
Seperti meletakkan cinta di tempat yang benar
 
Meninggalkanmu siang itu
Seperti bulir-bulir air yang meninggalkan kelopak mataku
Seperti mencabut sebelah paru-paruku
Terengah nafas hilang tak kembali
Hampir jatuh terjungkal mati
Seperti cahaya yang terisap gelap, pekat, tercekat
 
Berlari dari bayangmu senja itu
Seperti berlari menjauhi bayang-bayangku
Seperti mengosongkan samudera dengan tanganku
Sia-sia….sulit…
Masih mencengkeram erat
Seperti benalu yang menggerogoti kerangka jiwa
 
Menanti dirimu hadir disini malam ini
Seperti selembar kapas hendak hinggap di tanah
Seperti mungkin tapi tak mungkin
Mungkin terjadi tapi tak juga terjadi
Dan aku masih disini
Sepertinya seperti mencoba bahagia
 
Menyusuri kembali jalan itu pagi ini
Seperti menabur benih luka di pematang hatiku
Seperti menggores sayatan-sayatan di urat jiwaku
Sakit…
Membuat ingin mematikan memori
Seperti boneka kayu diam bergerak dalam kendali
 
Menanti senja di siang hari ini
Seperti menanti dirimu
Seperti menanti kapas tua di pohon lapuk
Seperti terombang-ambing angin
Seperti hampir lepas namun tak kunjung lepas
Seperti sebuah kepastian yang tak kunjung pasti
 
 
 
dipersembahkan untuk mereka yang hidup untuk sebuah harapan

—————————————————————-

dan karena puisi tersebut dikirim ke milis, maka lgsg mendapat tanggapan yg disampaikan via japri. intinya banyak yg tersengat dengan isinya, mengingatkan pada luka lama. ntahlah….. *sedih*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s