Lebaran: satu episode mengeja hidup

Posted on Updated on

Lebaran datang lagi. Tidak terasa. Rasanya baru kemaren mudik. Ritual sama seperti beberapa tahun di belakang. 
Puasa tahun ini terasa berbeda. Terasa ringan tanpa beban menjalankannya. Bukan, bukan karena tingkat pemahaman saya yang semakin tinggi akan nilai puasa. Namun, lebih kepada hanya melaksanakan suatu perintah sebagai suatu kebiasaan, tanpa penggalian esensi yang lebih jauh. Saya tidak munafik. Padatnya kegiatan kerja membuat saya menjalankannya dengan setengah hati antara kehabisan tenaga dengan rasa senang karena kadang jadi lupa karena lapar. Intinya, puasa kali ini saya merasa tidak naik kelas. Ntah keputusannya saya tinggal kelas, ato malah turun kelas. Saya serahkan sepenuhnya kepada Yang Maha Adil.
Puasa ini yang biasanya orang disarankan untuk lebih memperdalam kehidupan rohani juga sepertinya menjadi momen yang biasa saja. Justru beban kerja yang meningkat seperti menuntun saya menghamba kehidupan duniawi. Tidak ada usaha mengekang nafsu manusia. Iya, saya sadar memang masih sehina itu. Hai anda yang lebih mulia, tolong bantu saya!
Lebaran tiba, seperti biasa saya dituntun hati dan naluri seorang anak untuk kembali sejenak ke keluarga. Lebaran tahun ini terasa lebih lengkap. Keluarga saya berkumpul genap. Saya pun kembali bisa menangis tergugu sungkem kepada Ibu, sosok wanita lemah namun tegar yang telah menyokong saya selama ini. Kembali merasakan hangat air mata Bapak dan bisikan lirihnya mohon ampun atas kekhilafannya. Berpelukan dengan adek cewek saya yang selalu menjadi partner sejati dalam berselisih. Mendekap kedua adek lelaki saya yang walo bandel namun sanggup jadi sandaran saat saya limbung. Ntah mengapa harus menunggu momen lebaran untuk merasa bahwa kita adalah satu keluarga utuh yang ditakdirkan untuk saling menyayangi. Namun bersyukur karena masih dikaruniai momen seperti ini, walo setahun sekali, untuk menyadarkan kami semua. Ya Engkau Yang Maha Segalanya…terima kasih…
Berkumpul dengan simpul keluarga besar yang lain selalu membuat saya merasakan lebih banyak hal lain. Bahwa ditengah kekacauan keluarga kami, masih ada banyak orang yang lebih tidak beruntung. Melihat seorang ibu yang lebih dari 5 tahun tidak dikunjungi putranya yang hanya berjarak semalam perjalanan darat. Tidak, jangan bilang dia keterlaluan. Anda harus maklum bahwa tidak semua orang bisa hidup berkecukupan setiap hari dan disamping itu bisa menyisihkan rejekinya untuk pulang di hari lebaran. Itu sesuatu yang terlalu muluk untuk kebanyakan orang. Sebuah keluarga lain bercerita tentang rencana mereka untuk berziarah ke tanah suci, padahal ada saudara jauh mereka yang ikut bersusah payah mengeluarkan segala upaya mendukung rencana tersebut hanya karena mereka berhutang segenggam uang yang tidak seberapa. Banyak lagi cerita yang berhembus kering mengusik kesadaran saya bahwa betapa tidak bersyukurnya saya atas segala kemudahan yang saya terima setiap hari.
Ada beberapa potret kehidupan lain yang berhasil saya rekam sepanjang perjalanan saya pulang kali ini. Seorang ibu yang menangis sesenggukan di tengah malam sambil memangku anak terkecilnya. Dia hanya sanggup membeli 2 buah tiket kelas ekonomi padahal masih ada 2 orang putrinya yang ikut serta. Suaminya? Rela mengalah mudik dengan mengendarai kendaraan bermotor hanya demi menghemat uang yang tidak seberapa. Ah….pedih rasa hati saya melihatnya.
Pemandangan ibu-ibu yang berjubel di sebuah pegadaian juga mengiris hati saya. Betapa menjelang hari raya ini semua orang berusaha menyambutnya dengan segala rupa. Apapun diusahakan hanya untuk memenuhi standar perayaan yang ntah siapa yang mengharuskan begitu. Padahal mereka hanya membawa sebuah panci alumunium usang, selembar kain batik usang, sebentuk cincin tipis, dan seuntai kalung emas yang sudah pudar. Tidak sanggup saya membayangkan berapa rupiah yang akan mereka terima dan barang apa yang akan mereka dapatkan dengan uang tersebut.
Kegiatan rutin saya di rumah ikut ibu berbelanja ke pasar memperparah kesedihan saya. Harga bahan kebutuhan pokok yang melambung tinggi saya jamin membuat mereka menangis dalam hati. Tidak terpikir bagaimana mereka mencukupi kebutuhan sekunder mereka yang lain. Atau mereka bahkan tidak punya kebutuhan sekunder?
Masih dalam suasana hari raya ini, saya bahkan mendengar kabar tentang seorang sahabat yang sakit keras. Teriring doa karena raga saya tidak bisa mengunjunginya. Titipan beribu doa dari orang-orang yang mengasihinya rupanya tidak bisa memutus kehendak Yang Maha Berkuasa untuk memanggil sahabat saya itu. Di usia yang masih sangat belia, meninggalkan banyak orang yang mencintainya. Selamat jalan sahabatku Santy, semoga keinginanmu menikmati hidup bisa membuatmu pergi dalam damai. Wahai Yang Maha Pengasih…karuniakan umur yang cukup panjang kepada kami semua. Semoga masih banyak yang bisa kami lakukan dengan tangan kecil kami.
Cukup sampai disini? Belum. Masih panjang jalannya. Masih banyak ceritanya. Saya sadar gak semuanya manis, karena saya pernah dan sering juga berada di sisi getirnya. Mencoba menerima dengan penuh rasa syukur atas hal manisnya. Mencoba menerima dengan penuh rasa syukur atas hal pahitnya. Berharap semoga bisa berjumpa dengan ramadhan tahun depan dan tidak bercerita cerita yang sama atau lebih buruk dari ini. Amin.

p.s: mohon maaf lahir batin buat semua sahabat dan saudaraku.

Advertisements

One thought on “Lebaran: satu episode mengeja hidup

    masmpep said:
    December 18, 2008 at 10:18 am

    salam kenal bu.
    lebaran dan mudik. lebaran harus ada mudik. lebaran bermakna karena mudik. saya merasakan mudik sebagai sebuah momentum paling bermakna dalam satu tahun berjalan hidup saya. sudah delapan tahun saya menjadi perantau. delapan tahun pula saya selalu mudik. banyak cerita dalam mudik seperti ditulis posting ini, sampai saya tak dapat membayangkan seandainya suatu saat saya tak dapat mudik (lagi).

    saya sampai pada satu kesimpulan: tak ada lebaran tanpa mudik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s