refleksi: start point

Posted on

Bukan. Saya ndak akan ngomongin pijat itu.
Ini tentang melihat kembali perjalanan saya beberapa hari ini.
Saya dianugerahi rejeki untuk melakukan perjalanan dinas ke Mataram. Seperti biasa,saya sudah mempersiapkan surat ijin untuk memperpanjang masa kunjungan saya. Semuanya tampak sempurna pada awalnya. Tapi mulai memudar seiring datangnya masa itu.
Saya memang orang yang mudah terserang moodswing. Dan sialnya kali ini menyerang di saat saya harus menunaikan tugas negara. Hayah.
Dinas luar sendirian selalu memerlukan usaha ekstra buat saya. Dari mulai mempersiapkan semuanya sendirian,sampai menghabiskan waktu sendirian. Saya paling benci bepergian sendiri. Benci karena tidak bisa tertawa jika ada hal lucu. Itu masalah utamanya. Jengkel sekali bukan jika harus memendam tawa???
Keengganan saya akan perjalanan kali ini berbuntut panjang. Pertama, pesawat saya tertunda dengan alasan yang bikin pengen berangkat naek kuda saja, yaitu harus ganti ban depan. Kedua, saya tiba jam setengah sebelas malam waktu setempat tanpa ada penjemputan di kota yang asing sama sekali. Ketiga, kamar saya ndak dialiri tv kabel. Well, tidak penting, ini cuma iklan. Keempat, saya terpaksa harus merubah jadwal petualangan saya karena sebegitu tergantungnya saya akan bantuan seorang teman. Kelima, sweater cantik saya yang bikin saya terlihat saperti marcela zalianty -silakan semaput- hilang di pantai Senggigi.
Well…kota ini tampak tidak menyambut saya dengan ramah. Saya terserang perasaan gundah yang menyiksa. Ditandai dengan tidak benarnya saya menentukan kiblat buat sholat. Itu sudah jadi salah satu pertanda buat saya. Arah mata angin begitu membingungkan buat saya. Sangat menyiksa buat saya yang sangat spasial. Hayah.
Namun, semua ketidakenakan yang kemaren telah saya alami diselingi beberapa hal yang baik juga. Dimulai dengan kejutan bertemu seorang teman tercinta yang sukses bikin pipi saya menghangat seharian. Juga bertemu seorang kawan lama jaman kuliah yang memang penduduk lokal.
Dan tentu saja, kehadiran kalian sahabat-sahabat saya tercinta baik di plurk, di buku muka ini, di sms, dan tentu saja suara hangat kalian di telpon telah sanggup membantu saya bertahan. Terima kasih ya… Cukup kan?
Akhirnya, malam ini, setelah melunturkan akumulasi ketegangan selama beberapa hari, saya memutuskan untuk bersemangat kembali. Saya bisa menuntaskan perjalanan kali ini. Seperti perjalanan sebelumnya, saya berharap perjalanan kali ini bisa kembali menyegarkan hidup saya.
There’s so many place to visit, people to meet, food to eat. So, why worry??? There’s no need to keep your broken wings, Priska.
Dunia menunggumu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s